Home / Opini / TOEFL, Dilema dan Strategi Penanggulangannya Bagi Generasi Muda Aceh

TOEFL, Dilema dan Strategi Penanggulangannya Bagi Generasi Muda Aceh

ACEHCARONG.COM | ARTIKEL

Pendahuluan

Bahasan tentang Test of English as A Foreign Language (TOEFL) selalu menjadi bahasan yang sexy untuk diikuti. Kata TOEFL ini selalu saja hadir di bibir para generasi muda Aceh pemburu beasiswa yang hendak melanjutkan studi lanjutan ke luar negeri. Selain dari itu, TOEFL juga selalu jadi pembicaraan di kalangan mahasiswa di Aceh yang akan maju ke meja sidang skripsi.

Kita akan mendengarkan berbagai informasi tentang beratnya mencapai nilai yang telah disyaratkan oleh institusi pemberi beasiswa dan universitas sehingga diperlukan adanya inisiasi dari lembaga formal untuk mengurangi beban dari mahasiswa ini.

Tulisan ini akan membahas tentang pengertian, jenis TOEFL dan manfaatnya serta strategi unggulan yang dapat diupayakan oleh sebuah institusi formal dalam membantu mahasiswa mencapai nilai yang tinggi. Sebagian besar isi tulisan ini pernah dipresentasikan pada Seminar Nasional Perguruan Tinggi yang dilaksanakan oleh Universitas Andalas. Dari komentar dan saran yang didapatkan dari peserta seminar, maka tulisan ini mengalami modifikasi sehingga isi tulisan ini lebih bermakna.

Di zaman revolusi industri 4.0 ini, kompetisi di dalam dunia kerja dan pendidikan sangat ketat persaingannya. Tidak terkecuali bagi generasi muda Aceh yang sedang melamar beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Penguasaan bahasa Inggris menjadi sebuah hal penting untuk dimiliki oleh setiap mahasiswa di Aceh. Test TOEFL merupakan sebuah tes digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris bagi para penutur asing. Pentingnya tes TOEFL membuat lebih dari 9.000 institusi pendidikan di lebih dari 130 negara mengakui nilai ini, sebagaimana yang tertulis di website ETS sebagai pelaksana resmi tes TOEFL. Apa sebenarnya tes TOEFL ini dan apa manfaat bagi mahasiswa?

Pengertian TOEFL

Tes TOEFL merupakan alat ukur kemampuan bahasa Inggris bagi penutur asing. Tes TOEFL ini tersedia dalam tiga format; computer based test (CBT), internet based test (IBT) dan paper based test (PBT). Kalau di Indonesia, khususnya di Aceh, format PBT yang sangat populer di kalangan mahasiswa. Test TOEFL PBT terdiri atas tiga bagian tes: listening comprehension, structure and written expression, dan reading comprehension. Tes listening yang berada pada section 1 bertujuan untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap bahasa Inggris yang diucapkan oleh native speaker. Tes structure and written expression yang berada pada section 2 bertujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa menguasai grammar bahasa Inggris sesuai dengan standar penulisan. Dan tes reading comprehension untuk mengukur kemampuan pemahaman bacaan pada teks.

Jenis dan Pentingnya TOEFL

Tes TOEFL ini juga terbagi atas tiga kategori dengan kadar pengakuan yang berbeda. Pertama, TOEFL Internasional; tes ini diakui oleh semua institusi pendidikan di dunia. Kedua, TOEFL Institusional; tes ini bersifat institutional bermakna bahwa hanya universitas tertentu yang mengakui nilai ini. Ketiga, TOEFL prediction; tes ini sifatnya lokal. Hanya institusi pelaksana tes ini saja yang mengakuinya.

Biasanya mahasiswa direkomendasikan untuk mengikuti tes TOEFL prediction sebelum mengikuti tes TOEFL institutional dan Internasional. Selain harganya yang sangat terjangkau, TOEFL prediction ini juga memberikan gambaran tentang generic feature yang didapatkan pada tes TOEFL institutional dan internasional.

Nilai tes TOEFL menjadi syarat untuk melamar beasiswa. Sebagai contoh beasiswa Fullbright, Ford foundation, dan LPSDMA (beasiswa pemerintahan Aceh). Nilai yang disyaratkan oleh pihak sponsor ini sekitar 550 (PBT). Nilai setinggi ini menunjukkan bahwa mahasiswa sudah kompeten dalam mengikuti pelajaran yang ada di universitas negara berbahasa Inggris, seperti Amerika, Inggris dan Australia. Sehingga saat mengikuti mata kuliah di negara berbahasa Inggris tidak mengalami kesulitan lagi memahami materi yang disampaikan oleh dosennya.

Universitas di dunia mengsyaratkan nilai tes Bahasa Inggris seperti TOEFL sebagai salah satu dokumen yang harus dilampirkan saat memasukkan aplikasi studi. Nilai tes ini memperlihatkan kemampuan seseorang menguasai bahasa Inggris. Universitas di luar negeri seperti negara Amerika, mayoritas universitas di negara ini mengsyaratkan calon mahasiswanya untuk mendapatkan nilai TOEFL minimum 550.

Universitas di negara ini berasumsi bahwa dengan nilai sebanyak itu, calon mahasiswa mampu mengikuti proses belajar-mengajar di dalam kelas dengan baik tanpa ada kendala dengan pendengaran, diskusi dan lainnya. Sedikit berbeda dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), di universitas ini, nilai tes TOEFL tidak diberlakukan saat proses memasukkan aplikasi lamaran, namun tes TOEFL ini diberlakukan kepada mahasiswa saat akan mengikuti sidang skripsi terakhir.

Pemberlakuan persyaratan ini sempat menuai berbagai kritikan dari kalangan mahasiswa. Kritikan inilah yang kami beri nama dengan Dilema, pada tulisan ini. Kritikan ini dapat dilihat pada berbagai media seperti media Detak Unsyiah pada tahun 2015, dimana mahasiswa menganggap bahwa pemberlakuan syarat mendapatkan nilai TOEFL sebanyak 450 ini menghambat mereka menyelesaikan studi di Unsyiah. Bagi mahasiswa, pemberlakuan ini dianggap sebagai tindakan ambisius yang dilakukan oleh Unsyiah. Para mahasiswa beranggapan bahwa bidang studi yang mereka tidak begitu butuh nilai TOEFL ini.

Dengan kata lain, tanpa kemampuan bahasa asing ini, mereka juga bisa mendapatkan pekerjaan yang layak setelah menyelesaikan studi di kampus ini. Komplain inilah membuat pejabat universitas mencari jalan keluar lewat program Mata Kuliah Umum Bahasa Inggris (MKUBI) dan Unit Program Pendampingan Pembelajaran Bahasa Inggris (UP3BI). Kedua program ini fokus pada pengajaran TOEFL.
Strategi & Hasil Program Unggulan
Dua program unggulan, MKUBI dan UP3BI telah diterapkan semenjak semester ganjil 2015. Kedua program ini fokus pada pengajaran TOEFL. Bahan dan teknik pengajarannya disesuaikan dengan kebutuhan peningkatan kemampuan nilai TOEFL. Para pengajar dan kakak asuh fokus pada pengajaran Listening Comprehension, Structure & Written Expression, dan Reading Comprehension.

Bahan yang digunakan oleh staf pengajar seragam untuk masing-masing program, sehingga satu kelas dengan lainnya mendapatkan materi yang sama. Dua program ini merupakan kebijakan yang diambil oleh pejabat Unsyiah dalam merespon komplain dari mahasiswa.

Penulis telah membuktikan keefektifan dari dua program unggulan ini dalam membantu generasi muda Aceh di Unsyiah. Hasil dari keefektifan ini telah dipresentasikan pada sebuah Seminar Nasional Pendidikan dan Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di Padang pada tahun 2016.

Data yang ditampilkan di bawah ini adalah hasil pre-test dan post-test 1916 mahasiswa baru yang mengikuti program Bahasa Inggris MKU dan UP3BI pada tahun 2016. Lebih jelasnya, silakan melihat grafik 1 di bawah ini.

Grafik 1. Nilai pre-test and post-test.
Grafik 1 di atas menunjukkan perbedaan nilai yang dicapai oleh mahasiswa di Unsyiah saat pre-test dan post-test. Nilai di atas ini di klasifikasikan dalam tujuh kelompok dengan rentang nilai tertentu. Ketujuh kelompok ini adalah mereka yang memiliki nilai di atas 550, 500-547, 477-497, 450-473, 400-477, 350-397, dan 257-347 (kelompok 1-7, secara berurutan). Dari grafik di atas bisa kita lihat bahwa jumlah peserta pada kategori 6 & 7 semakin menurun. Sementara pada kelompok 2-5, terjadi peningkatan jumlah pesertanya. Artinya, telah terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa terhadap TOEFL.

Meskipun, jumlah peningkatan ini belum terlalu signifikan, namun tren peningkatan ini bisa terlihat. Secara umum, hasil tes ini menunjukkan adanya perubahan yang positif setelah melampau dua program unggulan Unsyiah ini. Dipercaya oleh banyak akademisi di kampus jika program ini dapat membantu meningkatkan kompetensi generasi muda Aceh dalam menguasai bahasa Inggris.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, nilai TOEFL yang tinggi menjadi syarat untuk menempuh studi di negara berbahasa Inggris. Juga nilai tertentu diberlakukan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya di Unsyiah. Bagi mahasiwa Unsyiah, pemberlakuan syarat ini mendapatkan respon yang negatif.

Pejabat Unsyiah merespon komplain mahasiswa ini dengan mengambil langkah positif yaitu dengan menyediakan program MKU dan UP3BI dengan fokus pengajaran TOEFL. Kedua program unggulan ini telah memperlihatkan keberhasilannya. Program unggulan ini mampu menumbuhkan kesadaran untuk belajar TOEFL. Dengan demikian, pemberlakuan TOEFL di Unsyiah tidak menjadi sebuah permasalahan lagi dan dipercaya akan dapat membantu meningkatkan kompetensi generasi muda Aceh dalam menguasai bahasa Inggris.

 

Penulis  :Dr. Iskandar Abdul Samad, MA
Dosen FKIP Bahasa Inggris, Universitas Syiah Kuala dan Staf Ahli Anggota DPD RI Asal Aceh

Check Also

Kiat Mencintai Profesi Guru Sehingga menjadi Profesional

Kiat Mencintai Profesi Guru Sehingga menjadi Profesional Oleh : Hariya Haldin, S. Pd, Guru SMAN …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *