Home / Opini / Android Based Test, Mungkinkah?

Android Based Test, Mungkinkah?

Oleh: Jon Darmawan, S.Pd., M.Pd.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) atau Computer Based Test (CBT) sudah dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir. Setiap tahun jumlah satuan pendidikan yang menerapkan UNBK terus meningkat.

Berdasarkan data statistik yang dirilis oleh Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui website resmi UNBK pada tahun 2017/2018 terdapat sebanyak 11.096 sekolah jenjang SMP/MTs, 9.652 sekolah jenjang SMA/MA, dan 9.829 sekolah jenjang SMK yang melaksanakan UNBK. Pada tahun 2018/2019 meningkat menjadi 43.836 sekolah jenjang SMP/MTs, 20.902 sekolah jenjang SMA/MA, dan 13.305 sekolah jenjang SMK yang melaksanakan UNBK.

Peningkatan jumlah sekolah yang melaksanakan UNBK secara keseluruhan lebih dari 2 kali lipat. Jika ditotal maka jumlah sekolah yang melaksanakan UNBK tahun 2017/2018 sebanyak 30.577 sekolah meningkat menjadi 78.043 sekolah pada tahun 2018/2019. Peningkatan yang sangat drastis ini sangat beralasan mengingat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menggalakkan pelaksanaan UNBK.

Fenomena pelaksanaan UNBK yang terus meningkat secara kuantitas menyiratkan bahwa UNBK memiliki kelebihan dibandingkan Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).

UNBK merupakan kegiatan pengukuran capaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentubsecara nasional dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dimana dalam pelaksanaannya menggunakan komputer sebagai media untuk menampilkan soal dan proses menjawabnya.

UNBK memiliki beberapa keunggulan dibandingkan UNKP yaitu, Pertama UNBK mampu menghemat kertas sehingga dapat menghemat biaya operasional. Kedua UNBK mampu mengefisiensikan proses koreksi ujian. Bahkan saat Simulasi kedua UNBK, siswa dapat melihat langsung jumlah soal yang dijawab benar pada layar komputer Client.

Ketiga UNBK mampu meminimalisir keterlambatan distribusi soal. Soal didistribusi dari server pusat ke server sekolah pada saat proses sinkronisasi berlangsung. Dengan demikian sangat kecil kemungkinan terjadi keterlambatan distribusi soal.

Keempat UNBK mampu meminimalisir kecurangan saat ujian berlangsung. UNBK mampu mengacak soal sehingga sesama peserta ujian dalam satu sesi dan antar sesi belum tentu sama soalnya. Dengan demikian integritas ujian semakin meningkat.

Kelima UNBK lebih mudah diikuti siswa. UNBK tidak mengharuskan siswa untuk mengisi biodata sebagaimana UNKP. Siswa hanya perlu login menggunakan username dan password masing-masing. Saat proses login berhasil maka biodata siswa muncul seketika.

Demikian juga saat menjawab, siswa tidak perlu membulatkan pilihan jawaban menggunakan pensil. Siswa hanya perlu klik pada pilihan jawaban yang dianggap benar menggunakan mouse atau langsung menekan huruf pada keyboard sesuai pilihan jawaban yang dianggap benar.

Kelemahan UNBK
Meskipun memiliki kelebihan dibandingkan UNKP, tetapi UNBK memiliki kelemahan. Beberapa kelemahan UNBK adalah, Pertama jumlah komputer yang dimiliki sekolah umumnya belum memadai. Hal ini mengakibatkan UNBK harus berlangsung dalam beberapa sesi. Maksimal jumlah sesi yang dibolehkan adalah sebanyak 3 (tiga) sesi untuk setiap mata pelajaran. Akibatnya UNBK berlangsung maksimal 6 (enam) jam dalam 1 (satu) hari. Jika terdapat masalah dengan server maka UNBK dapat berlangsung lebih lama lagi.

Kedua UNBK sangat bergantung pada aliran listrik. Sekolah yang berada di daerah terpencil banyak yang mengalami krisis listrik. Jika mengadakan genset tentu menambah biaya yang lebih besar lagi. Oleh karena itu saat UNBK berlangsung sangat diharapkan agar aliran listrik akan normal-normal saja.

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa kelemahan UNBK umumnya terletak pada terbatasnya infrastruktur atau prasarana dan sarana yang dimiliki sekolah. Akibat keterbatasan prasarana dan sarana ini, banyak sekolah yang terpaksa menumpang pada sekolah lain agar UNBK dapat berlangsung. Terutama sekali terkait dengan pengadaan server dan komputer client serta jaringan internet. Oleh karena itu perlu dicari solusi lain agar UNBK dapat berlangsung. Salah satu solusi yang penulis tawarkan adalah menggunakan Android.

Ujian Berbasis Android atau Android Based Test (ABT) merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi kekurangan yang dimiliki UNBK. ABT merupakan sistem ujian yang menggunakan Android sebagai media untuk menampilkan soal dan menjawabnya.

Android merupakan salah satu sistem operasi yang sangat populer dan digunakan pada hampir semua jajaran smartphone. Sistem operasinya yang bersifat open source menjadikan Android mampu menampilkan aplikasi mobile yang mirip dengan website setelah dikembangkan oleh para pengembang software. Salah satunya Android mampu melaksanakan ujian persis seperti UNBK.

Keunggulan Android Based Test

Sudah saatnya sekolah melaksanakan ABT. Efek negatif yang dikembangkan terkait penggunaan Android membuat beberapa sekolah melarang siswanya menggunakan Android di sekolah. Padahal Android memiliki keunggulan yang sangat membantu proses pembelajaran di sekolah.

Banyak konten-konten edukasi yang dapat di akses guna mendukung proses pembelajaran. Bahkan banyak aplikasi-aplikasi berbasis Android yang mampu memvisualisasikan konsep abstrak agar terlihat seolah-olah lebih konkret. Melihat banyaknya efek positif penggunaan Android, sudah saatnya sekolah mengizinkan siswa menggunakan Android di sekolah.

Terkait efek negatif yang kemungkinan timbul, pihak sekolah seharusnya memikirkan bagaimana mengatasi efk negatif tersebut, bukan justru melarangnya. Misalnya menyediakan jaringan Wi-Fi yang dapat memfilter Android siswa dari konten-konten negatif.

Perkembangan sistem operasi smartphone berbasis Android terbukti mampu memudahkan pekerjaan manusia termasuk guru. Saat ini terdapat aplikasi yang dapat mengoreksi lembar jawaban Paper Based Test dalam waktu yang sangat singkat. Jika lembar jawaban Paper Based Test mampu dikoreksi dengan sangat cepat oleh Android, maka ABT menjadi solusi tepat mengatasi kekurangan prasarana dan sarana UNBK.

Pelaksanaan ABT untuk mengatasi kekurangan UNBK tentu memiliki alasan yang kuat. Alasan yang penulis kemukakan terkait dengan kelebihan ABT dibandingkan UNBK. Kelebihan ABT diantaranya adalah, Pertama, hampir semua siswa memiliki smartphone berbasis Android. Dengan demikian maka ABT mampu menutupi kekurangan sarana komputer yang hampir dialami oleh semua sekolah. Jika terdapat siswa yang benar-benar tidak memiliki Android, maka dapat diatasi dengan komputer sekolah.

Penulis pernah menerapkan ABT di tempat tugas saat terpilih sebagai salah satu Finalis Inovasi Pembelajaran (Inobel) Level Madya tahun 2018. Semua siswa pada kelas uji coba memiliki Android. Respon siswa terkait penggunaan ABT juga sangat bagus. Mereka mengaku sangat senang mengikuti ABT.

Kedua, ABT sangat mudah dilaksanakan. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa hampir semua siswa sudah sangat nyaman dan mahir menggunakan Android dibandingkan komputer. Dengan demikian pihak sekolah tidak perlu melatih siswa menggunakan Android karena para siswa sudah tidak asing lagi dengan penggunaan Operating System (OS) ini.

Kelebihan ini membuat ABT lebih efisien dan efektif untuk dilaksanakan. Ketiga, ABT memiliki cara kerja lebih mudah dibandingkan UNBK. Proktor dapat mengunci aplikasi sehingga ujian mampu dilaksanakan tanpa pengawas ruang. Setelah aplikasi terkunci otomatis, maka siswa tidak bisa search menggunakan engine search sehingga ujian dapat berlangsung lebih tenang dan santai. Siswa tidak dapat berbuat curang karena soal dan pilihan jawaban diacak. Kondisi ini menjadikan ABT memiliki indeks integritas lebih baik.

Keempat, sama dengan UNBK, ABT pada dasarnya dapat menampilkan hasil ujian ketika siswa selesai mengikuti ujian. Dengan demikian siswa dapat mengetahui secara langsung hasil ujian mereka. Menu ini dapat diatur jika hasil ujian tidak ingin terlihat oleh siswa. Hasil ujian dapat direkapitulasi melalui server yang terdapat di sekolah.

ABT sudah diterapkan pada banyak sekolah di Indonesia. Khusus di Aceh, ABT sudah dilakukan pada beberapa sekolah. Misalnya sekolah SMA/SMK di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Demikian juga dengan sekolah di Kabupaten Aceh Jaya. Sekolah tersebut melakukan uji coba ABT pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Bahkan terdapat beberapa sekolah yang sudah melaksanakannya sejak tahun lalu. Hasilnya sekolah tersebut tidak mengalami kendala dimana ABT berjalan sukses dan lancar.
Sampai saat ini belum ditemukan kelemahan ABT kecuali terhadap siswa yang tidak memiliki Android.

Menurut Data Scientist Sharing Vision sebagaimana dijelaskan oleh Mahayana bahwa pasar smartphone di Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh Android. Android bahkan telah menguasai 90% pasar smartphone di Indonesia dan 75% di dunia (jabar.tribunnews.com). Lebih lanjut Mahayana menjelaskan bahwa penggunaan Android semakin meluas hingga ke sekolah. Banyak sekolah di Indonesia yang sudah melaksanakan ujian sekolah berbasis Android atau Android Based Test (ABT).
Data di atas menunjukkan bahwa ABT merupakan masa depan sistem ujian yang dapat dilakukan di sekolah.

Banyaknya siswa yang menggunakan Andrid merupakan keunggulan tersendiri yang harus dimanfaatkan oleh sekolah. Bahkan ABT tidak membebankan siswa karena hampir semua siswa menggunakan Android. Jika dibandingkan maka jumlah siswa yang tidak memiliki Android sangat sedikit. Siswa yang tidak memiliki Android ini dapat diatasi dengan menyediakan fasilitas komputer client yang terdapat di sekolah.

Mengingat semakin banyaknya sekolah yang melaksanakan ABT, bukan tidak mungkin UNBK kedepan tidak lagi menggunakan komputer sebagai client tetapi berbasis Android. Beberapa daerah sebenarnya sudah siap melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Android (UNBA). Salah satunya adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan Sulawesi Selatan sudah melakukan uji coba ABT pada tahun 2018.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Irman Yasin Limpo, uji coba yang dilakukan terbukti sukses dan berhasil. Uji coba yang dilakukan diharapkan menjadi percontohan bagi nasional agar melaksanakan UNBA. Beliau berharap Ujian Nasional nantinya menggunakan Android sebagai solusi menutupi kekurangan prasarana dan sarana yang setiap tahun menjadi masalah (liputan6.com, 30/3/2018).

Sistem ujian menggunakan Android yang sudah diuji coba memiliki banyak sekali manfaatnya. Inovasi sistem ujian ini memiliki infrastruktur yang sangat murah dan mudah dibandingkan dengan infrastruktur UNBK. Selain itu pelaksanaan ABT dapat berlangsung dengan sangat efisien, efektif, dan mudah. Hal ini menunjukkan bahwa ABT sangat mungkin dilaksanakan oleh hampir semua sekolah. Ayo beralih ke Android Based Test.

Penulis adalah guru dan proktor UNBK SMAN 7 Lhokseumawe, Ketua IGI Kota Lhokseumawe, dan anggota FAMe Chapter Lhokseumawe.

Check Also

TOT PENGAJAR PENGUATAN KEPSEK DITUTUP, EMPAT PESERTA RAIH NILAI TERTINGGI

ACEHCARONG, Banda Aceh— Training Of  Trainer (TOT) Pengajar Penguatan Kepala Sekolah Provinsi Aceh yang berlangsung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *